Haii guyss. Setelah lama ngga muncul di dunia blogger, kali ini aku mau review film Stip dan Pensil yang dirilis pertengahan 2017.
Sekilas dari judulnya memang nggak mencerminkan isi film ini. Nggak ketebak gitu ya. Mungkin yang dimaksud dengan stip dan pensil adalah seorang sahabat yang saling melengkapi. Atau menuliskan cerita kehidupan lalu menghapus kesalahan-kesalahan dengan stip? Karena di dalam film ini juga menceritakan dua kelompok/geng di sekolah yang bermusuhan dan akhirnya berteman baik. Entahlah gimana filosofinya. Film ini disutradari oleh Joko Anwar, yang juga merupakan sutradara film Gundala. Dari rating 100 film ini bisa dikasih nilai 80 lahh.
Bercerita tentang empat sahabat, Bubu (Tatjana Saphira) dkk yang notabene memiliki latar belakang keluarga kaya raya, yang bisa dibilang juga, dikucilkan di sekolah-karena mereka high class. Suatu hari, Pak Adam, guru di sekolah memberikan tugas membuat esai berkelompok. Awalnya mereka kebingungan mengangkat bahasan. Hingga akhirnya bertemulah mereka dengan Ucok, seorang anak kecil pengamen. Si Ucok ini awalnya mengamen dan mereka enggan memberikan uang (disumpahserapahin deh). Sampai akhirnya ban mobil kempos dan bertemulah mereka dengan Ucok. Terjadi dialog yang membuat mereka tahu bahwa ada kesenjangan yang terjadi—Bubu dkk dengan latar belakang keluarga yang kaya raya dan Ucok dengan latar belakang keluarga yang hidup di bawah kolong jembatan.
Dari situlah mereka tertarik untuk mengangkat tema pendidikan untuk anak-anak jalanan dalam esai. Suatu hari, karena asal ceplos, mereka akhirnya mewujudkan ide untuk membangun sekolah darurat sebagai wujud solusi untuk membantu anak-anak jalanan yang tidak berkesempatan mengenyam sekolah.
Tapi, realita yang mereka hadapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Berbagai tantangan mereka temui dalam menjalankan sekolah darurat ini. Mulai dari anak-anak yang nggak berkeinginan berangkat sampai perabotan sekolah yang dicuri buat dijual kembali.
In my opinion, film ini menghadirkan sisi lain dari anak-anak kelas menengah ke atas yang mungkin selama ini lebih sering diangkat sisi kehedonannya. Film ini menyadarkan kalau dari kalangan apapun, setiap manusia pasti memiliki perasaan. Keempat sahabat ini misalnya, they have feeling too, mereka tidak suka dianggap sebelah mata oleh teman-temannya hanya karena mereka anak orang kaya dan sejatinya mereka juga punya rasa empati.
Film ini menyadarkan bahwa masih ada masyarakat yang kurang sadar betapa pentingnya pendidikan. Kondisi ekonomi menjadi salah satu alasannya. Sampai pada akhirnya pada satu titik, anak-anak dan para orangtua di lingkup kolong jembatan itu akhirnya sadar kalau penting untuk “belajar” (baca: bersekolah)
Film ini juga menyadarkan kita realita penggusuran maupun relokasi yang notabene jarang disadari oleh kalangan menengah. Di akhir film ini, anak-anak jalanan bersemangat untuk kembali sekolah tanpa dibayar.
Di kelas film komedi, kalau menurut saya jokes di film ini tidak terlalu lucu. Beberapa terkesan seperti ejekan dan menyinggung etnis. But overall, film ini cukup menyentuh dan menyadarkan kalau mewujudkan education for all itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena banyak faktor yang memengaruhi juga—kesadaran dari orangtua dan si peserta didik sendiri, misalnya.
No comments:
Post a Comment